S H A R I T A
Sweet Touch

touch bellow image to get more!



posting! GODDE$$
hello lovely readers! welcome to Feby's blog. Please enjoy!


find me here!

twitter
facebook
instagram
polyvore
Talk with me ^^



Credits!

Basecode: Nurul AtiQah
Template by: Nida
Re-Edited By: Feby Sarita

past or future!


Tanggung Jawab Dibalik Gelar Subak sebagai Warisan Budaya Dunia

“eh, mau ngapain??” tanyaku kepada teman yang terburu-buru menuju ruang dosen. 

“bimbingan, Bi” jawabnya sembari mengeluarkan beberapa lembar kertas.

Yah, kata “bimbingan” “konsultasi” atau kata-kata yang berkaitan dengan skripsi akan sering terlontar dari mahasiswa semester galau (kata anak muda jaman sekarang) seperti angkatanku. Apalagi akan menjadi makin galau kalau kasusnya seperti aku. Mahasiswi yang belum punya judul penelitian, tapi udah terbakar semangatnya gara-gara temen yang sibuk bimbingan skripsi dan lain-lain.

Iseng-iseng ngsearching tentang masalah pertanian yang lagi hot di Bali, ternyata dapet inspirasi. “UNESCO Akui Sistem Pengairan Subak sebagai Warisan Budaya Dunia” seperti itulah salah satu contoh artikel yang aku dapet. Ah! Kayanya ini bakal jadi masalah yang bagus untuk diangkat di skripsi.

Berbekal inspirasi itu, aku memutuskan untuk ikut-trend-temen yaitu bimbingan ke Pak Gde (note : Beliau Kepala Penilai Usulan Penelitian). Saat kluarin ideku, Beliau memuji karena ini merupakan salah satu topik bagus, lalu bapak dengan kacamata ini memberi saran judul skripsi kepadaku “kalau seperti itu, gimana kalau pake judul Upaya Pemerintah Provinsi Bali dalam mewujudkan Kesinambungan Subak sebagai Warisan Budaya Dunia. UNESCO kan baru aja kasi gelar itu kan, trus sebaiknya kamu pikirin, gimana cara pemerintah untuk tetap menjaga julukan itu” sarannya seolah memberiku semangat untuk memulai langkah untuk meraih gelar SPku.

Yops, itu tadi sedikit ilustrasi yang memberi ide untuk menulis postingan ini…


keelokan pemandangan subak yang kini menjadi sorotan setelah mendapat gelar sebagai warisan budaya dunia

Merupakan suatu fakta, jika Bali memiliki berbagai pesona di mata dunia. Keelokan alamnya hingga keunikan budayanya menjadikan Bali sebagai salah satu tempat yang harus dikunjungi sebelum meninggal dunia. Menyadari hal itu, tampaknya pemerintah tak hanya memfokuskan perhatiannya kepada menjual keindahan alamnya. Kini, kebudayaan merupakan aset terpendam yang saatnya digali potensinya.

Seperti yang dilansir di voaindonesia  UNESCO mengakui sistem pengairan pertanian Bali yang yaitu Subak sebagai bagian dari warisan budaya dunia. Ini salah satu prestasi yang harus dibanggakan. Betapa tidak, pemerintah dan pratisi pemerhati subak sudah mengupayakan hal ini selama 12 tahun. Respon positifpun berdatangan dari badan yang mengurusi bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan ini.

Sedikit ulasan tentang subak:

Subak adalah organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah yang digunakan dalam cocok tanam padi di Bali, Indonesia. Subak ini biasanya memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik, atau Pura Bedugul, yang khusus dibangun oleh para petani diperuntukkan bagi dewi kemakmuran dan kesuburan yaitu Dewi Sri. Sistem pengairan ini diatur oleh seorang pemuka adat yang juga adalah seorang petani di Bali (Dedesander, 2011).  Sistem pengairan di Bali ini sangat kental dengan konsep Tri Hita Karana, yaitu tiga hubungan yang menyebabkan keharmonian. Masyarakat Hindu percaya bahwa pencapaian kebahagiaan hanya bisa tercapai melalui harmonisasi tiga unsur:  parahyangan (hubungan manusia dengan Tuhan),  pawongan (hubungan manusia-manusia), dan palemahan (hubungan manusia-alam). Sistem irigasi seperti ini sebenarnya dapat diterapkan di daerah lain dengan memakai konsep yang sama, namun nama Subak hanya dipakai di daerah Bali.

No!!! dibalik gelar membanggakan seperti itu akan menimbulkan tanggung jawab yang sepadan. Sebagai mahasiswi Pertanian yang dibekali ilmu dasar Subak dan gadis Bali, merasakan subak bahkan sudah berada dititik kritis untuk diselamatkan. Dalam Raperda Subak menyatakan bahwa selama tahun 2009 sampai 2011 sebanyak 3.400 hektar lahan pertanian telah beralih fungsi. Lahan pertanian tersebut beralih sebagian besar untuk perumahan, dan pembukaan jalan baru. Nahlo, bagaimana dengan nasib subak jika terjadi alih fungsi lahan terus menerus??

Menurut Suastika, sebagai bentuk keseriusan Bali dalam menjaga Subak, pemerintah daerah Bali kini sedang mempersiapkan peraturan daerah (perda) terkait perlindungan lahan pertanian.

Potongan kalimat tersebut sedikit menarik perhatian saya. Agaknya terdengar seperti sudah terlambat jika Bapak Suastika menyebutkan “…kini sedang mempersiapkan peraturan daerah”. Sepertinya, pemerintah hanya memikirkan upaya teoritis tanpa melihat kondisi yang terjadi.

Banyak alasan mengapa petani lebih memilih menjual lahannya daripada mengolahnya dan mempertahankan nilai kebudayaan subak. Anggota subak yang terhimpit masalah ekonomi, tidak dapat mempertahankan tanah garapannya sehingga lebih memilih untuk menjual lahannya. Bantuan dana pemerintah yang dianggap kurang memadai, pajak tanah yang tidak sebanding dengan hasil panen, sistem pengairan yang mulai tidak adil, faktor cuaca yang tidak menentu, hingga godaan dari investor untuk membeli lahan sawah.

Pertanyaan pun muncul dalam benak saya.

Jadi, apakah salah jika petani menjual lahan mereka? Akankah pemerintah dapat menutupi masalah tersebut hanya melalui Perda? Bagaimana cara menyelaraskan perda dengan himpitan ekonomi petani? Sebenarnya dimana upaya pemerintah untuk tetap menjaga kelestarian subak? Siapa yang dapat menjawab pertanyaan saya? Bahkan para pengambil kebijakan pun akan ragu menjawab dengan pertanyaan yang saya lontarkan. Sudahlah, bukan saatnya untuk bertanya dan mencari celah untuk menyalahkan berbagai pihak. Dimulai dari usaha, maka hasilkan akan sebanding dengan usaha yang dilakukan~



Posting ini terinspirasi dan diikutsertakan dalam kontest voaindonesia
xoxo~ wish me luck  and will be  1st winner

Labels: , , ,